Pengantar
"Para wartawan merupakan martir untuk Timor Leste dan saya percaya mereka adalah orang Timor juga."1
Pada bulan Oktober 1975, militer Indonesia melakukan teror dan melancarkan promosi destabilisation di wilayah perbatasan di Timor Leste. Tujuannya adalah untuk menghasilkan pemalsuan pembunuhan agar dapat dikaitkan dengan pemaksakan pro-kemerdekaan Timor Leste. Hal ini akan mempermudah invasi dibawah dalih "memulihkan ketertiban". Lima wartawan Australia yang dikirim oleh stasiun TV pergi ke Timor Leste untuk meliput konflik. Jika wartawan merekam/menyuting kampanye militer dan menyampaikan ke dunia luar, hipokrasi cerita militer Indonesia yang telah berkembang dapat terpecahkan. kelima wartawan terbunuh dalam jangka waktu beberapa hari setelah tiba di kota perbatasan Balibo. Wartawan yang keenam, Roger East, terbunuh beberapa minggu kemudian di depan lebih dari 100 saksi. Beliau bukan wartawan asing terakhir yang dibunuh oleh pasukan Indonesia. Posisi itu…Thoenes, yang terbunuh pada tanggal 21 September ...seorang wartawan Indonesia yang bernama Agus Muliawan terbunuh oleh pasukan Indonesia empat hari kemudian.
Pada tahun 2007, investigasi Coronial menyimpulkan bahwa kelima wartawan - Brian Peters, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Gary Cunningham dan Tony Stewart – jelas jelas mengindeintifikasi diri sebagai warga Australia dan juga sebagai wartawan. Mereka tak bersenjata dan berpakaian sipil. Mereka angkat tangan, yang mana pada umumnya diakui sebagai sikap menyerah. Mereka dengan sengaja dibunuh atas perintah dari tingkat tinggi. Mayat mereka dipakaikan seragam, senjata diletakkan di sebelah mayat mereka , kemudian difoto untuk menunjukan bahwa mereka adalah sasaran yang sah.
Saya seorang Konsultan Sejarawan untuk film Balibo. Saya beruntung bisa bekerja dengan sutradara Robert Connolly, yang berkomitmen dalam hal akurasi sejarah. Website ini menyediakan beberapa komentar faktual bagi mereka yang telah menonton film dan ingin mengetahui lebih jauh tentang masalah tersebut. Website ini mengacu pada karya penting Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste. Komisi, yang dikenal dengan inisial Portugis CAVR (AComissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliaçao) didirikan dengan otoritas independen pada bulan Juli 2001 oleh otoritas Transisi PBB di Timor Leste. Dengan mandat untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia oleh semua pihak antara April 1974 dan Oktober 1999. Laporan resmi Chega! (Bahasa Portugis untuk 'cukup'), ditulis oleh staf nasional dan internasional yang bekerja di bawah arahan dan pengawasan dari tujuh komisaris CAVR Timor Leste.
Untuk para pembaca di Indonesia dan Timor Leste: ada beberapa persamaan penting antara kita: keinginan untuk hidup damai, kesehatan yang layak bagi semua, pendidikan yang baik, lingkungan yang bersih, hubungan yang berarti dan bersemangat untuk masa depan anak-anak kita. Saya berharap website ini memberikan kontribusi yang lebih baik untuk hubungan kita di antara tiga negara dengan memungkinkan kebenaran untuk diketahui dan keadilan untuk menang.
1 Manuel da Silva, Balibo inquest, 2007.
Informasi di situs ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dr Clinton Fernandes. Walaupun beliau senang bagi anda untuk menggunakannya dengan bebas, harap mengerti bahwa harus dikutip juga semua data penelitian yang terdapat dalam situs ini.
top
