Perjalanan Menuju Balibo








Pada bulan Januari tahun 1975, Fretilin dan UDT bersatu dalam politik koalisi yang singkat. Kedua belah pihak sepakat bahwa Timor Leste harus merdeka sendiri, dan bahwa mereka akan membentuk pemerintah transisi yang dipimpin oleh anggota dari kedua belah pihak. Namun, rasa saling mencurigai diantara mereka jauh lebih kuat dan kurangnya pengalaman dalam bidang politik berarti mereka tidak memiliki mekanisme untuk menangani perbedaan diantara mereka. Khususnya, UDT terancam oleh dukungan populer Fretilin. Kedua pihak terus menyerang satu sama lain secara lisan dan ketegangan meningkat di kabupaten. Indonesia mengeksploitasi ketegangan tersebut, merongrong kesempatan persatuan Timor Leste dengan memihak pada satu sisi. Koalisi di antara UDT dan Fretilin roboh setelah empat bulan.

Pada awal Agustus 1975, figure figure UDT bertemu dengan ketua umum intelijen Indonesia Ali Murtopo di Jakarta. Mereka meluncurkan kudeta terhadap Fretilin saat mereka kembali. Dalam gerakan yang disebut "gerakan bersenjata" 11 Agustus, UDT menguasai beberapa instalasi dan menahan ratusan pemimpin dan pendukung Fretilin. Fretilin menarik pasukannya ke bukit bukit di Aileu, Dili selatan dan memulai serangan balik pada tanggal 20 Agustus. Administrasi pemerintahan Portugis meninggalkan Dili pada tanggal 26 Agustus ke Pulau Atauro dan tidak pernah kembali. Beberapa anggota polisi dan beberapa unit militer mengdukung UDT tetapi kebanyakan mengdukung Fretilin, UDT dikalahkan pada awal September. Fretilin membentuk administrasi, mendistribusikan makanan dan terus mengakui kedaulatan Portugis. Juga memastikan bahwa bendera Portugis dikibarkan di ibukota dan mencegah penggunaan kantor gubernur di sana. Adminitrasi pemerintahan Portugis abaikan permintaan Fretilin untuk kembali. Sementara itu, Indonesia terus meningkatkan pasukan militernya ke dalam wilayah Timor Leste pada bulan Oktober 1975 dalam kampanye yang dikenal sebagai Operasi Flamboyan. Militer Indonesia menguasai desa Batugade pada tanggal 7 Oktober 1975, memicu pada konflik bersenjata internasional dimana Konvensi Jenewa tahun 1949 terapkan. Balibo diserang pada 16 Oktober 1975.

Pejabat Australia diberitahu jauh sebelum serangan Indonesia di Balibo. Berikut adalah kutipan dari tiga kabel yang sekarang tidak diklasifikasikan:

  1. "Kami telah menerima hari ini, tanggal 13 Oktober, perincian mengenai bantuan Indonesia kepada pasukan anti-Fretilin ... Operasi akan dimulai pada tanggal 15 Oktober. Dari Balibo dan Maliana / Atsabe. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan operasi utama pada pertenggahan bulan berikutnya (termasuk menduduki Dili). Ada kemungkinan, namun, karena Indonesia memberikan dukungan logistik tanpa pengamatan dan pengaturan pada musim hujan tugas ini tidak akan selesai sampai Desember. Presiden dalam mengesahkan anggaran menegaskan bahwa "tidak boleh ada bendera Indonesia" yang boleh digunakan dalam operasi. "1
  2. "Presiden Suharto baru-baru telah mengeluarkan izin untuk meningkatkan keterlibatan Indonesia secara pesat... Peningkatan operasi dimulai hari ini, seperti yang anda ketahui. Tjan telah memberikan rincian tambahan berikut tentang hal ini. Semua pasukan Indonesia beroperasi di Timor Portugis akan berpakaian sebagai pasukan anti Fretilin. Mereka berkumpul di Atapupu. Awalnya 800 pasukan Indonesia akan menduduki Batugade Balibo-Maliana-Atsabe ... Tentu saja kehadiran pasukan Indonesia dengan perintah ini akan menjadi publik. Masyarakat Indonesia mengakuinya. Adalah kebijakan Presiden untuk menyanggah segala bentuk laporan akan kehadiran pasukan Indonesia di Timor Portugis. Kami tidak bermaksud untuk menilai kemungkinan keberhasilan operasi Indonesia. Masyarakat Indonesia yakin. Dalam perkiraan mereka angkatan bersenjata Fretilin sekitar 5000 orang, termasuk cadangan. Jika ada kesulitan Indonesia, kami menilai, meningkatkan keterlibatan untuk mengatasinya ... Sementara itu Indonesia akan terus melancarkan kebijakan yang baik dan seringan mungkin secara diplomasi pada tingkat perwakilan masyarakat.

    Setuju Nnya Menteri Luar Negeri Malik untuk berbicara dengan pasangan Portugis adalah bagian dari pola yang digunakan. Seperti yang terlihat dari Jakarta, kita harus membenahi sikap sebagaiman perlawanan meningkat di Timor Portugis, yang harus dimulai hari ini. Berdasarkan pada pembicaraan di Townsville, Presiden Suharto menganggap bahwa Pemerintah Australia akan berusaha untuk memberikan dukungan dan memahami Indonesia sebisa mungkin. Pernyataan Perdana Menteri di DPR pada tanggal 26 Agustus mengkonfirmasikan asumsi ini. Salah satu contoh yang meyakinan Pemerintah Indonesia... adalah dimana selalu memberikan informasi mengenai rahasia perencananya. Tanpa ragu, saya berpikir bahwa pemerintah Indonesia mendasari penilaiannya akan posisi Australia berdasarkan pada pembicaraan antara Mr Whitlam dan Presiden Suharto di Townsville. "2

  3. "Saya berbicara panjang lebar dan terbuka dengan Jenderal Benny Murdani pada malam terakhir, 15 Oktober. Jendral Murdani baru saja kembali dari kunjungannya ke Timor sehari sebelumnya, termasuk Batugade. Mengenai operasi yang diluncurkan kemarin, tanggal 15 Oktober, General Murdani mengkonfirmasikan apa yang telah Tjan beritahukan kepada kami dalam laporan sebelumnya. Dalam keadaan semacam ini saya hanya dapat mengulangi komentar saya sebelumnya bahwa, dalam beberapa minggu mendatang, kita akan tetap berjuang dan menomorsatukan kepentingan jangka panjang di wilayah ini. "3

1 Secret Australian Eyes Only Priority cable from Australian embassy Jakarta to Canberra dated 13th October 1975.

2 Secret Australian Eyes Only Priority cable from Australian embassy Jakarta to Canberra dated 15th October 1975.

3 Secret Australian Eyes Only Priority cable from Australian embassy Jakarta to Canberra dated 16th October 1975.